3 Lansia di Muaro Jambi Produksi 50 Kain Ecoprint Lewat Program Senja Karsa Pertamina EP
MUARO JAMBI — Program Senja Karsa menggabungkan kegiatan kreatif dengan aspek kesehatan dan pengembangan ekonomi masyarakat. Senior Officer CID PHR Zona 1 Winda Damelia menyebut pendekatan itu sengaja dipilih agar lansia tetap produktif tanpa mengabaikan kondisi fisik mereka.
"Pengembangan keberlanjutan melalui sociopreneurship tetap berkaitan dengan kesehatan, salah satunya melalui pembuatan batik ecoprint sebagai bentuk terapi seni," kata Winda di Jambi.
Siapa yang Terlibat dan Bagaimana Produksinya Berjalan
Sebanyak tiga lansia terlibat langsung dalam kegiatan produksi ecoprint. Mereka memanfaatkan daun pakis sebagai motif lokal, bahan yang mudah ditemukan di sekitar Desa Kota Karang.
Sejak program dimulai pada 2025, kelompok tersebut telah memproduksi sekitar 50 lembar kain ecoprint. Pada 2026, produksi tercatat mencapai sekitar 10 kain.
Satu lembar kain membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga hari untuk diselesaikan. Prosesnya mencakup penataan bahan, pewarnaan, hingga pengolahan motif.
Mengapa Produk Belum Masuk Tahap Pemasaran
Winda menyatakan kegiatan saat ini masih berada pada tahap produksi dan belum memasuki tahap pemasaran. Pertamina EP Jambi Field tengah menyiapkan mekanisme penjualan agar hasilnya bisa menopang keberlanjutan program.
"Kami akan menyusun mekanisme pemasaran serta pemanfaatan hasil penjualan untuk menjaga keberlanjutan produksi dan memberikan manfaat ekonomi bagi para lansia," ujarnya.
Target jangka panjangnya adalah terbentuk kelompok lansiapreneur yang mampu mengembangkan kegiatan produktif secara berkelanjutan berbasis potensi lokal.
Kolaborasi dengan Pemkab Muaro Jambi dan BKKBN
Pertamina EP Jambi Field memperkuat kolaborasi dengan Kemendukbangga/BKKBN Provinsi Jambi, Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi, dan Pemerintah Desa Kota Karang. Kolaborasi itu diwujudkan melalui kegiatan wisuda Sekolah Lansia.
Pj Kepala Desa Kota Karang Suandi mengucapkan terima kasih kepada PT Pertamina EP Jambi Field yang telah menjadikan Desa Kota Karang sebagai lokasi program pemberdayaan lansia.
Menurut Suandi, para lansia memperoleh kesempatan untuk kembali belajar, mengingat pengetahuan yang telah dimiliki, serta mendapatkan berbagai pelatihan yang mendukung kesehatan dan produktivitas mereka.