JAMBI — Angka 177 hotspot itu menjadi penanda bahwa musim kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Jambi belum berlalu. Sepanjang 2026, jumlah hotspot di provinsi ini mencapai 10.742 titik, menggambarkan beratnya ancaman kebakaran yang harus dihadapi hampir setiap tahun.
Api tidak hanya menghanguskan vegetasi dan lahan produktif. Asap yang ditimbulkan mempengaruhi kualitas udara dan kesehatan masyarakat, dengan ribuan warga dilaporkan terserang ISPA.
Batanghari Jadi Wilayah Terdampak Terbesar
Data terbaru menunjukkan luas lahan terbakar sejak 1 Januari hingga 29 September 2026 mencapai 4.123,84 hektare. Kabupaten Batanghari mencatat luasan terbakar terbesar, yakni 1.240,79 hektare.
Disusul Tanjung Jabung Timur seluas 659,18 hektare, Tanjung Jabung Barat 639,55 hektare, Muaro Jambi 577,71 hektare, dan Sarolangun 508,55 hektare.
Medan Gambut Bikin Api Sulit Dipadamkan
Di sejumlah lokasi, petugas harus berhadapan dengan medan yang sulit dijangkau. Sebagian kawasan berada di lahan gambut yang menyimpan bara di bawah permukaan tanah.
Api sering kali terlihat padam, tapi kembali muncul beberapa saat kemudian. Kondisi itu membuat proses pemadaman membutuhkan waktu dan tenaga yang tidak sedikit.
Siapa Saja yang Terlibat Penanganan Karhutla Jambi?
Penanganan karhutla terus dilakukan secara terpadu oleh pemerintah daerah bersama TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, serta berbagai instansi terkait. Mereka bergerak dalam satu koordinasi untuk menekan meluasnya kebakaran di berbagai wilayah.
Pekerjaan besar itu terus berlangsung di lapangan, mulai dari patroli darat, pemantauan udara, pemadaman, hingga penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran lahan.
Dengan 177 hotspot yang masih terdeteksi dan musim kemarau yang belum berlalu, kewaspadaan di seluruh kabupaten terdampak masih diperlukan untuk menekan perluasan kebakaran dan dampaknya bagi kesehatan warga.