Bardella Bantah Tuduhan Antisemit, Klaim RN Diserang Total

Penulis: Redaksi
Rabu, 30 September 2026 | 00:01:02 WIB

NAVIGASI.CO.ID — Presiden Partai National Rally (RN) Jordan Bardella membantah laporan Mediapart yang memuat komentar antisemit yang diduga ia tulis saat masih berusia 17-18 tahun. Ia menyebut pemberitaan itu sebagai upaya menjatuhkan partainya menjelang pemilihan presiden Prancis 2027. Sejumlah menteri dan tokoh oposisi menuntut Bardella mundur dari jabatannya.

Laporan situs investigasi Mediapart memuat sejumlah pernyataan antisemit yang diduga ditulis Bardella antara 2013 dan 2015, ketika ia masih menjadi anggota Front National. Mediapart mengklaim telah memverifikasi tulisan tersebut secara independen, termasuk dari grup email dan layanan pesan.

Bardella merespons dengan pernyataan tegas di depan anggota parlemen dan senator partainya. Ia menyebut laporan itu palsu dan berencana menempuh jalur hukum atas tuduhan pencemaran nama baik.

"Kita sedang melihat awal dari perang total, sebuah upaya mendestabilisasi kampanye presiden," kata Bardella, dikutip dari pertemuan di parlemen.

Isi Tuduhan Mediapart

Mediapart merilis sejumlah kutipan yang diduga berasal dari tulisan Bardella. Salah satunya berbunyi, "orang Yahudi harus mendominasi bangsa lain, menghancurkan mereka, dan merampok mereka; seorang Zionis sudah pasti Yahudi, dan secara fundamental demikian."

Kutipan lain yang dilaporkan berbunyi, "semua bank dimiliki oleh orang Yahudi." Mediapart menyatakan tulisan tersebut tersebar di grup email dan layanan pesan selama periode 2013-2015.

Bardella menuduh Mediapart ingin "membunuh karier politiknya." Ia menegaskan tidak pernah menulis pernyataan tersebut dan menantang pihak yang menuduhnya untuk membuktikan klaim itu di pengadilan.

Dukungan Le Pen dan Posisi RN

Marine Le Pen, yang berdiri di samping Bardella saat pernyataan itu disampaikan, menyatakan kepercayaan penuhnya kepada presiden partainya. Le Pen saat ini memimpin survei menjelang pemilihan presiden 2027.

Sejak mengambil alih kepemimpinan partai pada 2011, Le Pen berupaya membersihkan citra RN dari masa lalu antisemit. Partai yang didirikan ayahnya, Jean-Marie Le Pen, pada 1972 itu pernah memiliki anggota mantan Waffen SS dan pejabat yang terlibat rezim Vichy.

Jean-Marie Le Pen pernah menyebut Holocaust sebagai "sekadar detail" dalam Perang Dunia II. Ia dihukum lebih dari 15 kali karena ujaran kebencian dan penyangkalan kejahatan terhadap kemanusiaan. Le Pen mengeluarkan ayahnya dari partai pada 2015 setelah pernyataan antisemitnya berulang.

Bardella melakukan kunjungan ke Israel pada 2025, yang pertama oleh pemimpin sayap kanan Prancis. Langkah itu untuk menunjukkan kredensial baru RN. Pada 2023, ia sempat menyatakan tidak menganggap Jean-Marie Le Pen antisemit, sebelum menarik pernyataannya setelah dikritik.

Reaksi Pemerintah dan Oposisi

Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noël Barrot menulis di media sosial bahwa antisemitisme bukan kecelakaan dalam sejarah RN. "Itu adalah sejarah partai itu. Itulah wajah sebenarnya dari sayap kanan," tulisnya.

Menteri Kesetaraan dan Antidiskriminasi Aurore Bergé menyebut konten pesan yang diduga ditulis Bardella sebagai "antisemit dan teori konspirasi." Ia mengatakan hal itu mengingatkan mereka yang mungkin sudah lupa sifat sayap kanan.

Raphaël Glucksmann, kandidat dalam pemilihan pendahuluan Partai Sosialis, menegaskan tidak ada latihan hubungan masyarakat yang bisa mengubah RN secara fundamental. "Jangan pernah lupa bahwa mereka semua bergabung dengan partai yang didirikan oleh fanatik antisemit dan rasis habis-habisan," katanya.

Yonathan Arfi dari CRIF, payung organisasi Yahudi Prancis, mengaku terkejut dengan kerasnya komentar antisemit yang diduga dibuat Bardella. Ia mempertanyakan bagaimana seorang pemimpin partai yang membuat pernyataan menjijikkan bisa mencapai posisi tinggi di partai yang mengklaim telah berubah.

Pemimpin Partai Hijau, Marine Tondelier, menuntut Bardella yang juga anggota Parlemen Eropa itu mundur dari semua jabatan politiknya. Ia menyebut Bardella sebagai "antisemit obsesif" di balik citranya sebagai pembela Yahudi.

Kasus ini menjadi ujian bagi strategi Le Pen yang selama bertahun-tahun berusaha menjauhkan RN dari masa lalu antisemitnya. Tuduhan Mediapart muncul saat Le Pen memimpin survei elektabilitas, dan dapat memengaruhi peta politik menjelang pemilihan presiden 2027.

Reporter: Redaksi