PGE Bidik Peran Besar di Hari Jadi RI ke-81: Panas Bumi 24 GW Jadi Andalan Baru Kedaulatan Energi

Ahmad Yani, Direktur Utama PGE, menyampaikan pernyataan pers terkait peran perusahaan dalam mendukung kedaulatan energi nasional di Jambi.
Penulis: Redaksi
Selasa, 18 Agustus 2026 | 10:46:31 WIB

JAMBI — Momentum kemerdekaan kali ini tidak hanya dimaknai sebagai perayaan, tetapi juga refleksi atas kemandirian energi nasional. Indonesia dianugerahi potensi panas bumi terbesar di dunia, namun pemanfaatannya masih jauh dari optimal—baru sekitar 12 persen dari total 24 GW yang tersedia. PGE, sebagai anak usaha Pertamina, menempatkan diri di garda terdepan untuk mengubah potensi ini menjadi kekuatan nyata.

Direktur Utama PGE, Ahmad Yani, menegaskan bahwa kedaulatan energi bukan sekadar soal listrik yang menyala. Lebih dari itu, ini tentang kemampuan bangsa mengandalkan kekuatan sendiri untuk menopang ekonomi dan kesejahteraan rakyat.

"Kedaulatan energi dimulai dari kemampuan kita mengandalkan kekuatan sendiri. Indonesia dianugerahi potensi panas bumi yang besar, dan tugas kita adalah mengubah anugerah tersebut menjadi manfaat yang nyata bagi masyarakat," ujar Ahmad Yani.

Keandalan Operasi dan Bukti Kinerja

Klaim tersebut bukan tanpa dasar. Sepanjang semester I-2026, produksi listrik PGE mencapai 2.745 gigawatt-hour (GWh), tumbuh 13,62 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Angka ini menunjukkan bahwa panas bumi mampu beroperasi stabil 24 jam, tidak terganggu cuaca, dan tidak bergantung pada impor.

Keandalan ini tercermin dari availability factor yang mencapai 99,71 persen dan capacity factor sebesar 90,42 persen. Artinya, pembangkit panas bumi hampir tidak pernah berhenti beroperasi dan bekerja mendekati kapasitas maksimalnya—sebuah kontras dengan pembangkit berbasis energi terbarukan lain yang bergantung pada kondisi alam.

Lebih dari Sekadar Listrik: Menghidupkan Ekonomi Rakyat

Kontribusi PGE tidak berhenti pada produksi energi. Di Ulubelu, Lampung, perusahaan mengembangkan inovasi Melon Geothermal yang mengombinasikan pemanfaatan panas bumi dengan transfer pengetahuan kepada petani lokal. Sementara di Lahendong, Sulawesi Utara, kolaborasi dengan Universitas Gadjah Mada melahirkan pupuk booster Katrili berbahan silika panas bumi.

Inovasi serupa juga berjalan di Karaha melalui program Eco Eduwisata Kampung Kopi dengan Pupuk COMBINE, serta di Kamojang yang sejak 2018 mengoperasikan Geothermal Dry House. Fasilitas terakhir ini memanfaatkan uap buangan untuk mempercepat pengeringan kopi secara efisien dan ramah lingkungan, membantu petani meningkatkan produktivitas tanpa biaya energi tambahan.

Menuju Satu Abad Panas Bumi Indonesia

Perjalanan industri ini akan memasuki usia satu abad, dan PGE menyambutnya dengan sejumlah proyek strategis. Beberapa di antaranya adalah PLTP Lumut Balai Unit 3 dan 4 di Sumatera Selatan, PLTP Hululais Unit 1 dan 2 di Bengkulu, serta pengembangan PLTP Lahendong Unit 7–8 dan Binary Unit di Sulawesi Utara.

"Menjelang 100 tahun perjalanan panas bumi Indonesia, kami melihat masa depan dengan optimisme. Jika satu abad terakhir adalah perjalanan untuk membuktikan potensi panas bumi nasional, maka abad berikutnya adalah kesempatan untuk menjadikannya salah satu kekuatan utama Indonesia," kata Ahmad Yani.

Dengan cadangan yang melimpah dan teknologi yang terus berkembang, panas bumi bukan lagi sekadar pelengkap bauran energi. Ia adalah tulang punggung transisi energi yang memastikan Indonesia tidak hanya bersih, tetapi juga mandiri dan berdaulat di tengah persaingan global.

Reporter: Redaksi