IHSG Melemah ke 6.401, Asing Borong BBRI Rp719 Miliar di Tengah Pelemahan Rupiah

IHSG ditutup melemah 0,12 persen ke level 6.401 pada pekan ketiga Agustus 2026.
Penulis: Redaksi
Selasa, 18 Agustus 2026 | 08:19:02 WIB

JAMBI — Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berada dalam fase konsolidasi pada pekan ketiga Agustus 2026. Berdasarkan riset BNI Sekuritas yang dirilis Selasa (18/8), indeks komposit ditutup melemah tipis 0,12 persen secara mingguan (week on week/WoW) ke posisi 6.401, seiring dengan sikap wait and see pelaku pasar terhadap arah nilai tukar Rupiah.

Kondisi ini tercermin dari indikator Relative Strength Index (RSI) yang bergerak mendatar atau sideways. Volume transaksi perdagangan juga tercatat menyusut dibandingkan rata-rata likuiditas dua pekan sebelumnya, mengindikasikan minimnya dorongan untuk reli lanjutan.

Asing Akumulasi BBRI, Lepas Saham Bank Mandiri

Di tengah konsolidasi indeks, arus modal asing justru menunjukkan pergerakan dinamis pada saham-saham berkapitalisasi besar. Data BNI Sekuritas mencatat investor asing mengakumulasi saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dengan total pembelian bersih mencapai Rp719 miliar, menjadikannya posisi top foreign buy pada pekan tersebut.

Saham emiten lain yang turut diburu investor asing antara lain:

  • TINS senilai Rp244 miliar
  • BREN senilai Rp163 miliar
  • ANTM senilai Rp148 miliar
  • BBCA senilai Rp126 miliar

Di sisi berlawanan, aksi jual asing terbesar menimpa saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dengan nilai pelepasan mencapai Rp821 miliar. Tekanan jual juga dialami saham TPIA senilai Rp409 miliar, ASII Rp264 miliar, TLKM Rp247 miliar, dan UNTR Rp101 miliar.

Proyeksi IHSG: Uji Support 6.363, Resistance 6.557

Kevin J. Hutabarat, analis BNI Sekuritas, memproyeksikan laju IHSG pada pekan ini masih akan tertahan dalam pergerakan sideways dengan kecenderungan melemah. Indeks diproyeksikan akan menguji area support pertama di level 6.363, dengan batas support kedua yang lebih dalam di posisi 6.039.

"Apabila indeks mampu merespons sentimen positif dan berbalik arah, maka target resistensi terdekat berada di posisi 6.557, yang selanjutnya disusul oleh resistensi kedua di level 6.838," ujar Kevin dalam risetnya.

Imbal Hasil Obligasi Pemerintah Turun ke 7,062%

Pada instrumen pendapatan tetap, imbal hasil atau yield obligasi pemerintah bertenor 10 tahun (GOI 10Yr Bond Yield) terpantau berada di level 7,062 persen. Angka ini mencatatkan penurunan sebesar 23 basis poin secara mingguan, menunjukkan adanya pergerakan harga obligasi yang menguat di tengah pelemahan pasar saham.

Pelemahan Rupiah yang masih berlanjut menjadi faktor utama yang membayangi pergerakan pasar keuangan domestik. Pelaku pasar disarankan mencermati pergerakan kurs serta data ekonomi global yang dapat mempengaruhi arah kebijakan moneter ke depan.

Investasi mengandung risiko.

Reporter: Redaksi