Breaking

Harga Pertamax Turun Jadi Rp15.950 per Liter per 1 Agustus 2026, Biaya Logistik Pangan Berpotensi Terkendali

RE
Selasa, 18 Agustus 2026
Harga Pertamax Turun Jadi Rp15.950 per Liter per 1 Agustus 2026, Biaya Logistik Pangan Berpotensi Terkendali
Pertamina Patra Niaga menetapkan harga Pertamax Rp15.950 per liter mulai 1 Agustus 2026 untuk wilayah dengan PBBKB 5 persen.

JAMBI — Kabar baik menyapa pengguna BBM nonsubsidi di awal Agustus ini. Setelah sempat naik pada Juni 2026 akibat fluktuasi harga minyak dunia dan tensi geopolitik, Pertamina Patra Niaga akhirnya menurunkan harga jual untuk tiga produk utamanya: Pertamax, Pertamax Green 95, dan Pertamax Turbo.

Keputusan ini berlaku per 1 Agustus 2026. Untuk wilayah dengan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB) sebesar 5 persen—seperti DKI Jakarta—harga Pertamax dipatok di angka Rp15.950 per liter. Pertamax Green 95 dijual Rp16.600 per liter, dan Pertamax Turbo di level Rp18.300 per liter.

Mengapa Harga BBM Nonsubsidi Bisa Turun?

Penyesuaian ini bukan tanpa alasan. Kitty Andhora, Vice President Corporate Communication Pertamina Patra Niaga, menjelaskan bahwa perubahan harga mengikuti ketentuan dan arahan pemerintah. Pertimbangannya mencakup perkembangan harga minyak dunia, nilai tukar rupiah, serta daya beli masyarakat.

Penurunan ini tidak menyentuh segmen BBM bersubsidi. Harga Pertalite tetap bertahan di Rp10.000 per liter dan BioSolar Rp6.800 per liter. Kementerian Keuangan bahkan menegaskan komitmennya untuk tidak menaikkan harga BBM bersubsidi hingga akhir tahun 2026, meskipun harga minyak mentah sempat menyentuh kisaran tinggi beberapa waktu lalu.

Logistik dan Harga Pangan: Sektor yang Paling Diuntungkan

Dampak penurunan harga BBM tidak hanya dirasakan pengendara kendaraan pribadi. Sektor yang paling cepat merespons adalah logistik dan distribusi. Biaya transportasi merupakan komponen krusial dalam rantai pasok pangan—mulai dari pengangkutan hasil pertanian, sayuran, daging, hingga bahan pokok lainnya.

Kenaikan BBM nonsubsidi pada pertengahan 2026 sempat mendorong harga sejumlah komoditas pangan naik lebih dari 10 persen dalam waktu singkat dan menyumbang inflasi. Kini, dengan biaya distribusi yang lebih rendah, ada peluang untuk menstabilkan harga beras, cabai, bawang, dan kebutuhan pokok lainnya di tingkat konsumen. Meski demikian, faktor cuaca dan stok nasional tetap menjadi variabel penentu yang tidak bisa diabaikan.

Apa Artinya bagi Rumah Tangga dan Ketahanan Pangan?

Bagi rumah tangga, penurunan ini membantu meringankan pengeluaran transportasi, terutama bagi mereka yang mengandalkan Pertamax. Kelompok masyarakat yang bergantung pada Pertalite tetap terlindungi oleh kebijakan subsidi yang dipertahankan pemerintah.

Dalam konteks yang lebih luas, harga BBM merupakan indikator penting ketahanan energi yang berkelindan erat dengan ketahanan pangan. Produksi pupuk, operasional pompa irigasi, dan distribusi hasil panen semuanya bergantung pada ketersediaan dan harga energi. Stabilitas harga BBM bukan sekadar soal kenyamanan berkendara, melainkan fondasi bagi harga pangan yang lebih terjangkau.

Pemerintah dan Pertamina diharapkan terus menjaga keseimbangan antara kestabilan harga, ketepatan sasaran subsidi, dan percepatan transisi energi. Momentum penurunan harga di Agustus 2026 ini bisa dimanfaatkan untuk memperkuat efisiensi energi di sektor transportasi dan logistik, sekaligus menjaga daya beli masyarakat.

Masyarakat disarankan untuk terus memantau harga resmi di SPBU dan memanfaatkan aplikasi atau situs resmi Pertamina guna mendapatkan informasi terkini. Stabilitas harga energi yang terjaga akan menjadi salah satu kunci menjaga daya beli dan ketahanan pangan nasional di sisa tahun 2026.

Sumber: bataviapos.id

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua